Sejarah Desa

Historis Seni Ukir dan Relief

Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara hidup pada zaman Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang Prabu menyuruh Prabangkara membuat pahatan Permaisuri Raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisuri yang sangat cantik jelita.

Lukisan di atas kayu permisuri dibuat tanpa busana dengan sempurna oleh Prabangkara tanpa ada kesalahan sedikitpun, Prabu kemudian dengan tipu muslihat menghukum Prabangkara dan mengikatnya beserta peralatan pahatnya pada layang-layang yang kemudian diputus talinya. Dalam keadaan melayang-layang itu, pahat Prabangkara jatuh di dekat Gunung Muria, yaitu di Kota Jepara. Alat-alat pahat tersebut digunakan oleh penduduk Kota Jepara.

Pada dasarnya di setiap kecamatan di Kabupaten Jepara merupakan daerah ukir meubel. Akan tetapi, karena Desa Senenan terletak pada jalur utama Jepara –Pati maka menjadi daerah etalase. Kemudian industri kerajinan ukir meubel berkembang di sekitar jalur utama Jepara-Pati (sesuai teori Weber yang menyatakan bahwa daerah industri mendekati daerah pemasaran). Sedangkan ukir relief lahir sebagai bentuk perkembangan seni ukir.

 

Toponim Desa Senenan

Pada waktu Jepara diperintah oleh Kanjeng Adipati, ditemukan seperangkat “gamelan” yang tidak diketahui asalnya. Kanjeng Adipati mencoba membunyikan gamelan tersebut, tetapi gamelan tersebut tidak berbunyi meskipun sudah ditabuh. Saat itu, terdapat tradisi setiap tanggal 28 ( satu bulan sekali ) seluruh tokoh masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Jepara mengadakan Pisowanan Agung di Pendopo Kabupaten dengan membawa hasil bumi sebagai tanda hormat kepada Kanjeng Adipati. Kemudian, Kanjeng Adipati Jepara menyampaikan kepada seluruh tokoh masyarakat yang hadir di  Pisowanan Agung bahwa telah ditemukan seperangkat gamelan yang tidak bisa dibunyikan meskipun sudah ditabuh. Akhirnya, Kanjeng Adipati memberi kesempatan kepada para tokoh masyarakat untuk menabuh gamelan tersebut. Dari seluruh tokoh masyarakat yang ada, hanya seorang saja yang mampu membunyikan gamelan tersebut. Karena kebetulan hari Pisowanan Agung tepat di Hari Senin maka gamelan tersebut diberi nama Gong Senenan dan daerah asal tokoh masyarakat tersebut juga diberi nama Desa Senenan.

Tujuan dibunyikannya gamelan tersebut adalah untuk keselamatan keluarga Kanjeng Adipati dan masyarakat seluruh Kadipaten Jepara. Gamelan tersebut dibunyikan setiap Hari Senin dan terdiri dari satu buah gong besar, 2 buah kecer, 2 buah kendang dan 2 buah kempul. Akhirnya tradisi membunyikan Gong Senenan turun temurun karena masyarakat percaya bahwa apabila Gong Senenan tidak dibunyikan maka akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Selain terdapat tradisi membunyikan Gong Senenan, juga terdapat tradisi lain yaitu selamatan Gong Senenan yang dilaksanakan setiap  satu tahun sekali setelah Sholat Idul Fitri sambil mengiringi kehadiran para tamu undangan yang sedang melakukan pertemuan.

Facebook Comments